Jumat, 16 Desember 2016

Buat aku tersenyum

Ini kisah di negeri Madani negeri yang ramah akan perbedaan.

Tari sedang hobi memasak, rasanya apa saja yang ada dihadapannya ingin di eksplorasi buat menu masakan. Nah suatu ketika sepupunya menikah, otamatis Tari mudik ke kampung halamannya untuk menghadiri pernikahan kakak sepupunya. Saat mau balik ke kota, Tari punya ide untuk memasak kare daging untuk pacar barunya yang sudah jalan satu tahun namamya Dodi (saat itu Tari lagi putus sama Bagas, jangan salah si Tari ini orangnya cepat banget moving on). Tari suka banget memasak, namun Tari tidak suka membaca  resep buku, menurutnya ribet banget daftar belanjaan lho nurutin resep di buku selain itu si Tari lebih menyukai eksplorasi memasaknya karena hal itu menuntut sisi kreatif Tari di uji.

Si Dodi ini orangnya to the point lho suka ya suka, lho tidak suka ya tidak suka. Wis pokoknya tedeng aling2, Dodi tidak peduli omongannya menyakiti orang lain atau tidak. Yang Dodi pedulikan, Dodi mencoba untuk jujur. Berbeda sekali dengan prinsip Tari yang berusaha menyenangkan orang, menyampaikan sesuatu dengan menjaga perasaan orang lain. Sering sekali mereka berantem hanya karena pencapaian Dodi yang frontal ke Tari, tapi Dodi cowok yang baik jika melihat Tari menangis. Dodi minta maaf dan sebagai permintaan maafnya Dodi nurutin kemauan Tari (padahal si Tari ini kadang2 pura2 nangis supaya kemauannya di turuti).

Kembali lagi ke Tari, Tari hanya menanyakan resep kare daging ke ibunya. Mulai dari mengupas bawang, sampai nguleg, memotong daging yang ternyata ulet, bau daging mentah yang bikin muntah, semua itu ditahan oleh Tari (maklum sejak kecil sampai dewasa, Tari tidak pernah dipercaya oleh ibunya untuk memasak dan mencuci pakaian, Tari hanya dipercaya untuk melakukan tugas seperti design interior rumah, menyapu, mencuci piring, yang lebih ekstrim Tari pernah di suruh mengembala sapi saat Tari masih tinggal di kampung)  karena Tari ingin membuktikan ke Dodi jika Tari juga bisa masak walaupun masakannya tidak seenak mamanya Dodi dan kakak perempuannya Dodi.

Tari melihat jam tangannya setelah kare dagingnya masak, ternyata sudah jam setengah 9 pagi, sedangkan bus yang menuju kota jam setengah 10. Tari langsung siap-siap mulai mandi, tidak lupa memasukkan kare daging yang masih panas ke dalam plastik, lalu Tari berpamitan ke ayah ibunya.

4 jam perjalanan menuju kota yang ditujunya. Turun dari Bus,Dodi yang memakai jaket kulit warna hitam sudah menjemputnya.

Tari :"aku membawa oleh-oleh spesial buat kamu ".
Dodi : " apa?. Paling kacang kulit yang di goreng pasir yang rontokan kulit dalam kacang bikin kotor lantai".
Tari :"ihhhhhh kamu Dod, itu buatan ibu ku tau. Kamu tidak menghargai ibuku".
Dodi :"memang kenyataannya kayak gitu, lantaiku kotor setelah habis makan kacang darimu". (Dodi ini orangnya super bersih banget, cuci tangan saja 5 menit pokoknya prinsip sanitasy dilakukan deh padahal tangannya habis kena debu).
Tari :"lho kamu tidak mau kacang goreng bilang saja".
Dodi :"bukan gitu, aku mau kacang gorengnya tapi itu lho yang bikin kotor".
Tari :"kamu pilih bersih atau aku".
Dodi:" nggak ada hubungannya!"
Tari :"dasar nggak peka!"

Tari mempercepat langkahnya membiarkan Dodi dibelakangnya.
Diam sejenak

Dodi :"kamu bawa oleh-oleh apa?"
(Tari merasa surprises dengan pertanyaan Dodi, lupa jika dia sedang marah dengan Dodi).
Tari :"aku memasakkan kare daging spesial buat kamu"
Dodi :"hahhhhhh, kamu bisa masak kare dagung?" (dengan senyum menggoda).
Tari :"iya aku belajar, kamu kan pingin aku bisa memasak. Iya walaupun tidak seenak masakan mamamu dan kakakmu"
Dodi :"yaiyalah"
Tari :"kamu mau mencobanya kan?"
Dodi:"perutku masih kenyang".

Tiba di parkiran, setelah naik mobil. Tari masih kepikiran dengan jawaban Dodi. Tari masih berusaha membujuk Dodi. Dodi ini memang orangnya lempeng, tari khawatir jika Dodi tidak mau mencoba makan kare daging buatannya. Percuma usahanya

Tari :"kamu serius masih kenyang?".
Dodi :"iyaaaa tadi mama datang ke rumah masakin coto makasar".
Tari :"what itu kan masakan kesukaanku" (tari jadi bingung dan juga mau makan coto makasar yang ada semacam lontong tapi rasanya agak manis, maklum mama dan kakaknya Dodi sukanya masakan nusantara berbeda dengan ibunya Tari masakannya hanya itu-itu saja)
Dodi seakan paham jika Tari juga mau makan Coto makasar.
Dodi:"ke rumah makan dulu nanti baru ke kos"
Tari :"ngapain?" (berusaha jaim)
Dodi :"makan coto, aku tau kamu lagi bayangin coto kan".
Tari :"ehmmm iyaaa, tapi aku juga lagi bayangin gimana nasip kare dagingku ini. Aku sudah capek masaknya"
Dodi :"gampang kasihkan ke adik kosmu kasihan adik kosmu makan tahu tempe terus"
Tari:"ehmmmm boleh juga"
Tari:"apa???? Ini aku masak demi kamu lohhhhh"

Dodi diam tidak menjawab

Tari:" kamu takut mati ta makan masakanku".
Dodi:"nggak"
Tari:"iya"
Dodi:"nggak"
Tari:"lho nggak kenapa kamu tidak mau makan masakanku, kamu lebih memilih makan coto makasar daripada kare dagingku. Aku memang belum semahir mamamu dan kakakmu dalam hal memasak itu bukan karena aku tidak bisa memasak. Aku tidak memasak karena aku tidaj pernah dikasih kepercayaan buat memasak, tidak ada yang mau makan masakanku kecuali bapakku bahkan ibu dan kakakku lebih memilih masakanku dikasihkan ke ayamku. Walaupun masakanku tidak enak, aku tidak akan memasukkan racun ke masakanku. Memangnya aku sudah gila"(dengan suara tertekan menahan air matanya keluar)
Dodi :"iya nanti ku makan tapi makannya sama kamu"
Tari:"serius?."
Dodi:"iya"
Tari:"dengan senang hati aku akan menemanimu pangeran"
Dodi:"alahhhh gayamu bro!"
Tari :"kamu kan pencicip rasa paling hebat, kamu selalu jujur dalam segala hal. Nanti kamu nilai yaaaa masakanku tapi lho ngritik jangan terlalu jujur itu bikin aku down. Kamu kan tau aku orangnya gampang down"
Dodi:"iya, cerewet!"

Sampai dirumahnya Dodi, sudah ada mamanya dan kakak perempuannya di rumah menyambut Tari. Tari menawarkan kare daging tapi mama dan kakak perempuannya seakan paham jika masakannya buat Dodi jadi mereka menolak. (sebenarnya Tari curiga, mama dan kakak Dodi menolak antara paham masakannya spesial buat Dodi dan menolak karena takut muntah, tapi Tari nggak mau ambil pusing selama Dodi mau makan masakannya. Whatever dengan yang lain).

Dodi segera menyalakan kompor dan memanaskan kare daging. Dodi tipe orang perfectionis, dalam hal seperti ini Tari tidak boleh melakukan walaupun cuma memanaskan kare daging. Alasannya Tari ceroboh, dan kemproh. Benar-benar menyakitkan hati perkataan Dodi tapi bagaimana lagi Tari sudah terlanjur nyaman.
Tari menyiapkan piring, sendok dan menyiapkan porsi lontong (semacam lontong tapi rasanya manis, biasanya dimakan sama coto makasar ) ke piring Dodi dan untuknya sendiri.

Tari makan di lantai dengan piringnya diletakkan di meja, soalnya kuah dagingnya masih panas dan Tari tidak terbiasa makan di songgo pakai tangan. Sedangkan Dodi makan duduk di sofa dengan piring di songgo pakai tangan. Tari lebih dahulu makan, sesaat Dodi memanggil Tari yang ada dibawahnya yang sedang makan kare daging. Pandangannya Dodi seakan menunjukkan karenya tidak enak, padahal menurut Tari enak kok. Dia memilih memakai kelapa tua dan setengaj butir kelapa Tari pakai supaya santannya kental dan rasanya gurih.
Tari :"kamu beneran takut mati ta makan masakanku"(dengan suara pelan namun ditekan sebagai penegasan karen takut mama dan kakak Dodi mendengar suaranya)
Dodi :"nihhhhh aku makan"
Tari:"nahhhhh gitu donk pangeran, dihabiskan yaaaaaa".

Setelah selesai makan dan memberikan oleh-oleh. Tari berpamitan pulang ke kost dan diantarkan Dodi. 

...................
Kebiasaan Tari sebelum tidur adalah melakukan meditasi, merefleksi kejadian sehari-hari sampai pada memorinya mengingatkan kejadian saat makan kare daging dengan Dodi. Sebenarnya Tari merasakan ada yang nggak biasa dengan kare daging buatannya saat itu berbeda saat tari mencicipinya ketika baru masak. Ahhhhh besok ketemu Dodi, ditanyakan sama Dodi langsung saja.

................
Keesokan harinya di kost Tari.

Tari :"pangeran, kamu merasakan ada yang berbeda nggak sama kare dagingku kemarin, kayaknya rasanya beda. Aku baru sadar tadi malam sebelum tidur".
Dodi :"kare dagingnya basi"
Tari:"beneran taaa?, kok bisa?".
Dodi:"mana aku tau"
Tari:"aku masaknya jam setengah 8an, jam setengah 9 sudah matang. Jam 3 kita makan".
Dodi:"memang knyataannya basi".
Tari:" lohhhhh kamu tau tapi kenapa karenya tetap kamu makan".
Dodi:"gimana nggak dihabiskan, kamu cerewet banget".
Tari:"siapa sihhhh sebenarnya yang bodoh itu?"(sambil ketawa terbahak-bahak). Sifat dodi yang to the point dan sering mengatakan kata bodoh kepada Tari karena kecerobohan Tari.
Dodi:"kamu"(sambil merengut)
Tari:"hahhahahahaha aku nggak tau yaaaa nek kare nya basi lohhhhh tapi kamu yang tau karenya basinya tetap kamu makan. Hahahhahahahahah kapok kamu ketularan bodohku wkwkwkwkwk"

Dodi tidak menjawab tapi hanya menguyel-uyel rambut taru yang sudah tertata rapi. Tari tertawa akhirnya Dodi juga tertawa juga.

Tari:"ehhhh kemarin kan masih ada sisa kare dagingya terus dibuang yaaaa"(dengan nada percaya dan tidak)
Dodi:"kuahnya dibuang, dagingnya di goreng"
Tari:"memang enak?"
Dodi:"karena ada santannya jadi dagingnya gurih nek di goreng".
Tari:"makasihhhhh yaaaaa" (sambil memegang tangan Dodi)
Dodi :"iya"


#tobe continued#

1 comments so far


EmoticonEmoticon