Selasa, 27 Desember 2016



SURVIVAL MASYARAKAT DESA



                                                  WADUK PACAL KABUPATEN BOJONEGORO


Pernahkah Anda Bayangkan Bagaimana Kehidupan Suku Pedalaman,Hidup Di Tengah Hutan belantara Tanpa Peradaban,Hidup Berpindah - Pindah Akan Tetapi Tetap Dapat Hidup Dan Beranak Pinak, Nyaman Di Dalamnya.Tentu Ukuran Kenyamanan Manusia Berbeda- Beda Dan Tergantung Dari Sudut pandang  Mana Kita Memahami.

Ukuran Kenyamanan Manusia Pedalaman Adalah Bagaimana Hari Ini Mereka Dapat Makan Sekeluarga.Tanpa Harus Menyimpan Sebagian Hasil Jerih Payahnya pada Hari Itu Untuk Di Makan Esok Hari,Maklum Gak Ada Kulkas….Hehehehehe.

Sedangkan ukuran kenyamanan manusia modern adalah hari ini dan esok yang akan datang sudah menjadi satu paket kegiatan,sehingga mobilisasi kegiatan  menjadi dobel ( super sibuk ).
ada sisi positif dan negatif pada pola hidup masing – masing komunitas ini.satu sisi suku pedalaman dengan segala skill survival yang di miliki sdh mampu mencukupi kebutuhan hidupnya,sehingga tidak menguras banyak sumber daya alam yang berdampak pada rusaknya sumber daya alam.manusia pedalaman dengan kearifan local yang di miliki mampu mempertahankan ekosistem di habitatnya.bagi manusia modern tentu tidak nyaman banget hidup dengan pola seperti itu.

membayangkan bagaimana tidur di tengah hutan saja dengan tanpa pakaian/selimut,sudah nggak masuk akal,gimana nggak jadi santapan nyamuk atau binatang buas ??? ahhhhhhh….. ngeriiii.tapi tidak bagi manusia pedalaman.dan di era sekarang ini tahun 2016 mereka masih exis di tengah hutan dengan pertarungan  sengit dengan adanya  perluasan lahan perkebunan & HTI (hutan tanaman industry ) yang menggerogoti habitatnya.

Kita tingalkan bahasan manusia pedalaman belantara dan bergeser ke peradaban manusia yang sudah menetap pada suatu wilayah tertentu dan melakukan kegitan kemasyarakatan.
Jika kita mengamati di jaman sekarang ini apasih yang tidak tersentuh modernisasi ? masihkah ada yang tak tersentuh ?  mulai yang nyata dan maya semua tersentuh modernisasi.dan manusia akan selalu hidup berdampingan dengan masanya yang membawa lakon kehidupan.

Kalau jaman dahulu untuk bepergian kita harus naik kendaraan kuda,kalau jaman sekarang kita praktis memakai motor lebih kencang,nggak punya rasa capek,motor dapat di gunakan sewaktu- waktu,siang maupun malam.kalau kuda…. Hehehehe kalau pas kudanya lagi ngantuk gimana ? kalau kudanya pas lagi nggak mood gimana ? ngambek kan….hehhehehehehe…bisa bisa penumpangnya di jatuhin ke  jalanan.

Tapi ada hal – hal menarik ketika kita mengamati lebih dalam lagi dengan meninggalkan pandangan – pandangan prakmatis.semua punya kelebihan masing –masing,sebagai contoh apasih kelebihn kendaraan kuda, Di balik kejadulannya sebagai sarana transportasi ?
Kuda mempunyai peran penting di wilayah terpencil yang minim infrastruktur.coba bayangkan bagaimana motor mampu melintasi daerah hutan yang berbatu? trus kalau mau isi bensin di mana?adakah pom di hutan ? trus kalau pas bannya bocor harus nambal di mana ? belum lagi kalau melewati kali,bisa kemasukan air itu knalpot dan konsleting  kelistrikannya.tentu kudalah yang akan jadi pemenangnya.

Dengan transportasi Kuda nggak usah mikir ngisi   bensin di  POM, ,begitu tuannya istirahat sang kuda di ikat di rerumputan sekitarnya,jika sudah kenyang lanjut  jalan lagi, mampu melewati medan off road,dan enaknya lagi  kalau naik kuda nggak perlu mengurus SIM…hehehehehe….
Sekilas perbandingan antara kuda dan motor terkesan konyol,tapi itulah kenyataan yang akan terjadi jikalau sumber daya energy kita habis termanfaatkan,kita tentu akan kembali memanfaatkan energy – energi alternatif.

Apakaah ada daerah yang dekat dengan modernisasi tapi tak menggunakannya?
Di pelosok pulau Madura ada beberapa  desa yang yang masih menggunakan bajak sapi dalam mengerjakan lahan sawah dan kebunnya,padahal di sekitarnya mesin traktor sudah mendominasi sebagai alat pengerjaan sawah / kebun.

Sebuah pemandangan yang menarik apabila kita mengamati kegiatan ini di gubug sawah yang di buat oleh para petani untuk istirahat.
Di pagi hari yang cerah matahari belum menampakkan diri,namun sinar kemerahan sudah Nampak menerangi langit ufuk timur.

Seorang ibu tani dengan santainya mendorong gerobak sorong yang berisi kotoran sapi yang sudah di proses menjadi pupuk kandang,sementara si suami menggiring dua ekor sapi sambil  memikul alat bajak,melewati pematang sawah .setelah sampai lokasi segera sapi di pasangkan dengan seperangkat alat bajak,sedangkan si ibu petani meletakkan pupuk kandang di beberapa tempat dengan memencar.tampak gundukan – gundukan pupuk kandang di beberapa tempat.

Setelah sepasang sapi terpasang di bajak pak tani segera menjalankan bajaknya melintasi dan menggemburkan tanah persawahannya.sesekali gundukan pupuk kandang tersapu oleh bajak.dan ternyata ini adalah sebuah teknik menggemburkan tanah sekaligus meratakan pupuk kandang di sawah.si istri setelah meletakkan pupuk kandang bergegas pulang untuk menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga.

Sekilas kegiatan pak tani ini biasa –biasa saja.hanya membajak sawah secara tradisional,apasih hebatnya ? apakah tidak lebih hebat traktor ? semua punya kelebihan,tergantung kebutuhan.kalau mau cepet & praktis pakailah traktor.
Tapi kenapa pak tani tadi tetap menggunakan bajak trdisional ? ini alasannya :seorang petani tradisional tentu akan kesulitan dana untuk membeli sebuah traktor,kalau toh harus membeli dia harus menjual 2 ekor sapinya,padahal sapi itulah hartanya,sebagai asset ternak.jika di jual dia akan kehilangan pendapatan dari ternak.

Dua ekor sapi  itu juga berfungsi ganda,sebagai alat kerja dan penghasil anakan sapi.dengan bajak tradisional dia dapat mengerjakan sawah/ kebun sewaktu- waktu,tidak perlu repot membeli bahan bakar sehingga mengurangi ongkos kerja,ramah lingkungan,Sembilan bulan sekali sapi akan beranak,anakan inilah yang menjadi tabungan petani.

Dua ekor sapi juga dapat menghasilkan pupuk kandang yang tentu saja akan menghemat anggaran pembelian pupuk.bahkan ketika saat terjadi krisis pupuk pabrikan desa ini nyantai saja,karena dengan system ini kebutuhan pupuk sudah tercukupi,kalau toh menggunakan pupuk pabrikan itupun dalam jumlah yang kecil.

Bagi petani dengan skala besar traktor sangat di butuhkan  untuk efisiensi kerja.tetapi bagi petani kecil menggunakan bajak sapi akan lebih menguntungkan.
Bagaimanapun canggihnya teknologi harus selalu memperhitungkan segi kebutuhan,kalau memang belum butuh  tidak usah di paksakan,karena akan merugikan pengguna itu sendiri.



                                                                      27 Desember 2016, kang Hajir


EmoticonEmoticon