Minggu, 02 Juli 2017

6 Tahun Berjaya, Selven Akhirnya Gulung Tikar




Minimarket 7 - Eleven atau beken dengan akronimnya "Sevel" , resmi akan menutup semua gerainya di Indonesia sejak Jumat ( 30/6/2017 ) . Penutupan disebabkan sejumlah faktor , mulai dari target perusahaan yang tidak tercapai dan mengalami kegagalan sejak 2015.

Sevel sejatinya merupakan pemain baru di bisnis minimarket Indonesia. Modern Internasional baru meneken Letterman of intent master franchise gerai 7 - Eleven di Dallas tahun 2008. Setahun kemudian gerai pertama Sevel dibuka dikawasan Bulungan, Jakarta Selatan.

Tampilan fisik dan dagangan Sevel memang berciri minimarket . Namun untuk dapat beroperasi 24 jam, mereka menggunakan ijin restoran. Manajemen pun kemudian menambahkan makanan cepat saji , lengkap dengan meja dan kursi .

Konsep tersebut rupanya cukup diterima masyarakat, hingga pada masa jayanya, Sevel dapat membuka 30 - 60  gerai baru di Jakarta. Jika pada tahun 2011 hanya ada 50 Anda gerai, maka 2012 bertambah dua kali lipat.

Hanya enam tahun bertumbuh, kinerja bisnis Sevel mulai menurun 2015. Manajemen pun mencoba berinovasi dengan mengembangkan gerai yang tidak hanya mengandalkan penjualan tapi juga jasa. Mereka mengembangkan kios digital, seperti melayani penjualan pulsa, tiket konser hingga tiket perjalanan.

Pukulan kemudian datang pada 16 April 2016, minimarket dilarang menjual minuman beralkohol. " Saat minuman beralkohol di larang, penjualan berkurang. Lalu orang-orang yang membeli Snack seperti kacang-kacangan menurun ", kata corporate secretary PT. Modern Putra Indonesia, Tina Novita. Kondisi tersebut langsung memukul kinerja semua gerai.

Menteri perdagangan Enggartiasto Lukita mengaku akan melakukan pertemuan dengan PT Modern Sevel Indonesia, pihak pengelola Sevel terkait keputusannya untuk menutup seluruh gerainya di Indonesia.

Menurut Enggar, bisnis retail di Indonesia sampai saat ini masih tergolong baik. Hal tersebut terlihat dengan keberadaan Indomart  dan Alfamart yang masih bertahan . Selain itu menurut Enggar, pelarangan penjualan minuman beralkohol di minimarket bukan manjadi penyebab tutupnya Sevel. Sebab pelarangan tersebut tidak akan berdampak signifikan bahkan hingga tutup.

Mengamati ini pula ketua Kamar Dagang Indonesia Rosan Roeslani menilai tutupnya seluruh gerai Sevenfold di Indonesia lantaran model bisnis yang tidak tepat. Menurutnya Sevel mengutamakan tempat nongkrong daripada tempat belanja seperti Indomaret atau Alfamart.

" Orang beli Coca-Cola satu tapi nongkrongnya 2 - 3 jam. Jadi tidak sesuai model bisnisnya. Akhirnya margin dan volume penjualan tipis, biaya sewa mahal, dan biaya sewa tidak tertutupi, imbuhnya.
(Dihimpun dari berbagai sumber, NES/red )


Related Posts

6 Tahun Berjaya, Selven Akhirnya Gulung Tikar
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.